Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Cina Dengan Beragam Agama tahun 1949

Masyarakat Cina

Negara Cina merupakan negara yang telah lama ada dan bahkan merupakan salah satu peradaban dunia yang tertua. Di dalam peradaban itu, muncul pula agama dan filsafat yang dipercayai atau dianut oleh masyarakat. agama-agama itu antara lain adalah Budha, konfusius, kristen protestan, kristen katolik, dan Kong Hu Chu. Keberadaan agama ini senantiasa mengalami perkembangan. Yang dikaji dalam makalah ini adalah perkembangan agama itu pada masa sebelum berkuasanya komunis di Cina dan setelah berkuasanya komunis pada tahun 1949.

Sebelum adanya paham komunis di Cina, agama-agama dan filsafat di Cina megalami perkembangan dan mencapai puncak kejayaannya. Namun ketika paham komunis merasuki pikiran masyarakat Cina, maka agama-agama maupun paham di luar komunisme dilarang. Bahkan pemerintah yang didominasi oleh komunis telah berlaku semena-mena terhadap pemeluk atau penganut agama atau paham selain komunis.

Daftar Rujukan :
Darini, Ririn. 2010. Garis Besar Sejarah Cina Era Mao. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia
Soepratignyo. 1999. Sejarah Singkat Asia Timur. Malang: Institut Keguruan Ilmu Pendidikan
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Sutopo, FX. 2009. Cina: Sejarah Singkat. Yogyakarta: Garasi
Taniputera, Ivan. 2008. History of China. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Wiriatmaja, Rochiati, dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina: Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bandung: Humaniora

Cina Negara Komunis

Cina

Cina adalah negara yang menerapkan sistem komunisme pada pemerintahannya hingga kini. Sistem komunisme menjadikan agama tidak berkembang di masyarakat. Mengingat komunisme menjadikan materi sebagai poros penggerak dalam kehidupan, maka agama tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Komunisme sendiri muncul hampir bersamaan dengan masuknya Inggris ke Indonesia pada sekitar abad 19 yang kemudian membawa berbagai paham di Eropa. Akibatnya, muncullah komunisme sebagai reaksi atas masuknya paham-paham tersebut.
            Komunisme sendiri mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Mao Tse Tung. Mao Tse Tung sebagai pemimpin yang berideologi komunis berhasil menduduki pemerintahan setelah berhasil menggulingkan kekuasaan sebelumnya melalui kudeta yang penuh dengan darah. Adanya berbagai pergolakan pasca munculnya komunisme di Cina membuat para penulis tertarik untuk mencari tahu  perkembangan Cina pada masa berkuasanya komunisme, khususnya perkembangan dalam bidang agama.

            Makalah yang berjudul “Perkembangan Agama di Cina Pada Masa Berkuasanya Komunis Pada Tahun 1949”  ini akan dibagi menjadi beberapa sub bab pembahasan yang terdiri atas demografi dan kondisi Cina saat ini, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai perkembangan agama pada masa dinasti Ming dan Qing sebagai dinasti yang pertama kali menerapkan Confusianisme yang mirip dengan komunisme yang untuk selanjutnya mengakar menjadi agama Kong Hu Chu. Terakhir, akan dibahas bagaimana perkembangan agama di Cina pada masa berkuasanya komunisme yang dipimpin oleh Mao Tse Tung.

Konfusianisme

Konfusianisme

Konfusianisme atau Konghuchu mulai dikenal di Cina melalui pemikiran-pemikirannya yang cemerlang yang dilontarkan pada zaman Chou Timur (770-221 SM). Konghuchu lahir pada tahun 551 SM berasal dari kota Lu, Provinsi Shandong. Pada masa itu dinasti Chou tengah kehilangan kendali terhadap para tuan tanah yang menempati hampir setengah bagian dari wilayah Cina. Konghuchu dibesarkan oleh ibunya karena ia sudah kehilangan ayahnya ketika masih berusia tiga tahun. Ketika dewasa dan bekerja sebagai pegawai di kuil bangsawan Zhou, ia mengikuti semua detail-detail yang terdapat dalam perayaan yang akhirnya menjadikannya sebagai seorang yang ahli dalam ritual agama kuno.

Konfusianisme merupakan humanisme, tujuan yang hendak dicapai adalah kesejahteraan manusia dalam hubungan yang harmonis dengan masyarakatnya. Kodrat manusia menurut konfusius adalah “pemberian langit”, yang berarti bahwa dalam hal tertentu ia berada di luar piliham manusia. Kesempurnaan manusia terletak dalam pemenuhannya sebagai manusia yang seharusnya. Moralitas merupakan realisasi dari rancangan yang ada dalam manusia. Oleh karena itu, tujuan manusia yang paling tinggi adalah menemukan petunjuk sentral bagi moral yang mempersatukan manusia dengan seluruh isi alam semesta. Bagi Konfusius, manusia adalah baian dari konstitutif dai seluruh isi alam semesta. Manusia harus berhubungan secara indah dan harmonis dengan harmoni alam di luarnya. Ungkapan yang paling terkenal yang merupakan inti ajarannya yaitu tidak berbuat kepada orang lain apa yang dia tidak sukai orang lain perbuatan pada dirinya. Secara praktis ajaran Konfusius dapat disimpulkan menjadi tiga pokok yaitu:

1. Pemujaan terhadap Tuhan (Thian)
Konfusius mengajarkan keyakinan kepada pengikutnya bahwa Thian atau Tuhan menjadi awal atas sumber kesadaran alam semesta dan segalanya. Ia menekankan bahwa amat perlu untuk melakukan sembahyang korban terhadap Thian. Pengertian Tuhan dalam kepercayaan Tionghoa sebenarnya juga tidak berbeda dengan agama-agama yang lain yaitu sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya. Dalam kepercayaan kalangan rakyat, Tuhan biasanya disebut sebagai Thian atau Shangdi atau Siang Te (dialek Hokkian). Thian adalah penguasa tertinggi alam semesta ini. Karena itu, kedudukan-Nya berada di tempat yang paling agung, sedangkan para dewa dan malaikat yang lain adalah para pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan di alam semesta ini, sesuai dengan fungsinya masing-masing. Di dalam sistem pemerintahan ini, merupakan cerminan dari prinsip Yin dan Yang, yang diwujudkan dalam bentuk pemerintahan di dunia dan pemerintahan surga yang dilakukan oleh para dewa yang dipuncaki oleh Shangdi. Rakyat percaya pemerintahan surga memiliki struktur yang sama dengan pemerintahan dunia. Kalau pemerintahan dunia terdiri dari kaisar, para keluarganya, perdana menteri, menteri-menteri sipil dan militer, dan lain sebagainya, maka pemerintahan surga pun dipimpin oleh Shangdi dan dibantu para dewa-dewa baik sipil maupun militer untuk mengatur tata tertib di alam semesta ini. Sebab inilah maka para kaisar (hung-di) yang di bumi merasa perlu untuk memuja Shangdi (yang berkedudukan di atas) untuk memohon perlindungan dan berkah serta petunjuk-petunjuk untuk menjalankan roda pemerintahan di mayapada ini agar selalu selaras dengan kehendak Shangdi (Shang=di atas, di=tanah).

2. Pemujaan terhadap leluhur
Pemujaan terhadap leluhur adalah menolong seseorang untuk mengingat kembali asal-usulnya. Di sini asal mula manusia adalah dari leluhurnya. Upacara pemujaan terhadap leluhur di sini diperlukan sesaji. Sebagian besar aktifitas rumah tangga dalam keluarga Cina selalu berhubungan dengan roh leluhur. Salah satu fungsi utama dalam keluarga adalah melakasanakan pemujaan terhadap leluhur. Pemujaan leluhur dipandang sebagai perwujudan dari bakti anak terhadap orang tua dan leluhurnya (Xiao). Pelaksanaan upacara pemujaan leluhur dalam keluarga dipimpin oleh ayah sebagai kepala keluarga. Keluarga Cina menganut garus keturunan dari pihak ayah atau disebut patrilineal. Garis keturunan sangat penting bagi mereka guna menjaga kelangsungan keluarga. Oleh karena itu, anak laki-laki sangat penting untuk meneruskan garis keturunan.

3. Penghormatan terhadap Konfusius
Bagi orang Cina merupakan kewajiban mereka untuk menghormati Konghuchu yang mereka anggap sebagai guru besar seperti halnya penghormatan terhadap orang tua. Konghuchu dianggap telah berjasa dalam mengajarkan dasar-dasar ajaran moral yang sampai sekarang masih terus diterapkan. Filsafatnya yang pada akhirnya menyatu dengan kehidupan masyarakat Cina membuat secara keseluruhan ajaran Konfusius lebih banyak ditujukan kepada manusia sebagai makhluk hidup.

Buddhisme
Agama Buddha sudah menjadi bagian dari filosofi Cina selama hampir 2000 tahun. Meskipun Buddha bukanlah merupakan agama asli, melainkan pengaruh dari India, tetapi ajaran Buddha mempunyai pengaruh yang cukup berarti pada kehidupan orang Cina. Tema pokok ajaram agama Buddha adalah bagaimana menghindarkan manusia dari penderitaan (samsara). Kejahatan adalah pangkal penderitaan. Manusia yang lemah, tidak berpengetahuan (akan Buddhisme) akan sangat mudah terkena kejahatan dan sulit untuk membebaskan diri dari penderitaan.

Pendiri agama Buddha adalah Sidharta Gautama. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan di India. Sewaktu kecil, ayahnya menjauhkan Sidharta dari segala macam bentuk penderitaan dunia, sampai pada suatu hari secara tidak sengaja ia melihat orang-orang yang selama ini belum dilihatnya yaitu orang-orang tua, seorang yang sakit dan yang meninggal. Kenyataan tersebut membuatnya kemudian meninggalkan istana dan bertapa di bawah pohon bodhi. Setelah bertapa selama enam tahun akhirnya ia memperoleh pencerahan dengan menemukan obat penawar bagi penderitaan, jalan keluar dari lingkaran tanpa akhir yaitu melalui kelahiran kembali kepada suatu jalan menuju Nirwana. Jalan ini yang kemudian dikenal juga sebagai inti dari ajaran Buddha.

Buddhisme masuk ke Cina kira-kira abad 3 Masehi, pada masa pemerintahan dinasti Han. Buddhisme selanjutnya mengalami perkembangan sendiri di negara tersebut. Ajarannya di Cina mendapat pengaruh dari kepercayaan yang sudah ada sebelumnya yaitu Taoisme dan Konfusiansianisme. Hal yang paling kentara dari percampuran ini ialah dengan munculnya sekte Shan, yang juga muncul di Jepang dengan nama Zen yang merupakan Buddhisme India bercorak Taoisme Cina. Wujud dari agama ini adalah timbulnya versi-versi signifikan dari dewata-dewata buddha, seperti Avalokitecvara, Maitreya, dan sebagainya. Avalokitecvara berubah menjadi Dewi Welas Asih (Guan Yin atau Kwan Im). Dewi ini sangat populer sekali di kalangan orang Cina, tempat orang memohon pertolongan dalam kesukaran, memohon keturunannya, dan lain sebagainya. Kwan Im dalam penampilannya mempunyai 33 wujud, diantaranya yang paling populer adalah Kwan Im berbaju putih, Kwan Im membawa botol air suci, dan Kwan Im bertangan seribu. Dalam Avalokitecvara, Maitreya juga mempunyai wujud lain di Cina yaitu Mi le fo, seorang yang bertubuh gemuk dan raut muka yang selalu tertawa. Dewa ini dikenal sebagai dewa pengobatan.

Selain dewata-dewata Buddhis, di dalam sistem kepercayaan rakyat Cina mengenal tiga penggolongan utama dewata, yaitu:
  1. Dewata penguasa alam semesta yang mempunyai wilayah kekuasaan di langit. Para dewata golongan ini dipimpin oleh dewata tertinggi yaitu Yu Huang Da Di, Yuan Shi Tian Sun, dan termasuk di dalamnya antara lain dewa-dewa bintang, dewa kilat, dan dewa angin.
  2. Dewata penguasa bumi yang memiliki kekuasaan di bumi, walau sebetulnya mereka termasuk malaikat langit. Kekuasaan mereka adalah dunia dan manusia, termasuk akhirat. Mereka dikatakan sebagai para dewata yang menguasai Wu-Xing (lima unsur), yaitu: (a) kayu (dewa hutan, dewa kutub, dan lain sebagainya); (b) api (dewa api, dewa dapur); (c) logam (dewata penguasa kekayaan dalam bumi); (d) air (dewa sumur, dewa sungai, dewa laut, dewa hujan, dan lain sebagainya); (e) tanah (dewa bumi, dewa gunung, penguasa akhirat, dewa pelindung kota, dan lain sebagainya)
  3. Dewata penguasa manusia, yaitu para dewata yang mengurus soal-soal yang bersangkutan dengan kehidupan manusia seperti kelahiran, perjodohan, kematian, usia, rezeki, kekayaan, kepangkatan dan lain sebagainya. Termasuk dalam golongan dewata penguasa manusia ini adalah para dewata pelindung usaha pertokoan, dewata pengobatan, dewata pelindung, dan peternakan ulat sutra. Di samping itu, terdapat dewata-dewata kedaerahan yang menjadi pelindung masyarakat yang berasal dari daerah yang sama.
 Daftar Rujukan :
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Wiriaatmadja, Rochiati dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bnadung: Humaniora

Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia

Confusius (552 SM)

Confusius (552 SM)


Diantara filsuf yang masa hidupnya banyak mengalami kekecewaan dan kurang mendapat penghargaan ialah Confucius. Menurut kisah dan dongeng dalam tradisi yang bersifat biografi tentang orang keramat atau suci (Holy Man) yang disebut historiografi, Confisius merupakan orang yang berasal dari keturunan golongan bangsawan yang tidak mampu. Ada yang menduga bahwasannya Conficius berasal dari keturunan bangsawan Dinasti Shang. Ia memiliki nama asli yaitu Kung Tzu (Pujangga Kung) atau disebut pula Fu Tzu (Pujangga Besar) (Wiriaatmadja, 2003:109).

Para sejarawan memperkirakan bahwa Conficius lahir pada tahun 551 atau 552 SM. Conficius merupakan orang yang dikenal sebagai seorang yang konservatif yang kerap kali berbicara tentang “Jalannya para mantan Raja”. Namun, banyak gagasannya yang revolusioner dan mendahului pemikiran para filsuf Pencerahan Eropa seperti John Locke. Conficius menentang penggunaan garis keturunan dalam penentuan status dan kekuasaan. Ia berpendapat bahwa pemerintah harus melayani rakyatnya dan bukan sebaliknya. Ia kemudian menawarkan aturan moral yang didasarkan pada niat baik yang kurang lebih tergambarkan dalam pernyataan “Jangan perlakukan orang lain dengan cara yang tidak Anda sukai bila menimpa diri sendiri”. Setelah ia meninggal, beberapa pengikutnya kemudian bekerja di kantor-kantor pemerintahan. Para pengikut Conficius ini kemudian menyebarkan ajaran-ajarannya kepada orang-orang secara lisan. Setelah beberapa generasi kemudain, jaran-ajaran tersebut dibukukan dalam kitab Lun Yu atau Analects yang masih lestari hingga sekarang. Ajaran-ajaran ini kemudian menjadi Landasan Pendidikan Cina sekitar 2.000 tahun hingga tahun 1911. Ketika Revolusi Nasional menggulingkan Dinasti Qing. Selama dua milenium lamanya, pengetahuan tentang aliran Confisianis menjadi persyaratan utama bagi calon Pegawai Negeri di Cina (Lam N. Mark, 2007:18-19).

Daftar Rujukan :
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Wiriaatmadja, Rochiati dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bnadung: Humaniora
Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia

Dinasti Ming (1368-1644 M)

Dinasti Ming

      Penghujung Dinasti Yuan ditandai oleh adanya pemerintahan yang korup, pajak, dan inflasi yang tinggi. Hal ini semakin diperparah dengan adanya sikap bangsa Mongol yang suka bertindak sewenang-wenang. Kekaisaran kemudian mengganti mata uang yang telah beredar sejak zaman Kubilai Khan dengan mata uang baru. Mata uang ini baru dicetak dalam jumlah besar sehingga menyebabkan hiperinflasi. Hal ini kemudian menyebabkan perekonomian ambruk dan bencana kelaparan merebak dimana-mana. Pada tahun 1351, terjadi bencana banjir besar yang diakibatkan Sungai Kuning meluap. Kekaisaran kemudian menyuruh rakyat melakukan kerja paksa untuk memperbaiki bendungan Sungai Kuning. Kerja paksa ini kemudian menyebabkan ketidakpuasan rakyat dan akhirnya me nimbulkan pemberontakan petani yang terjadi pada bulan Mei 1351.
Pada tahun berikutnya Guo Zixing memimpin pemberontakan dan berhasil menguasai wilayah Haozhou. Ketika Guo Zixing melakukan pemberontakan Zhu Yuanzhang juga ikut berpartisipasi dan berjasa dalam beberapa pertempuran. Jasa Zhu kemudian menarik perhatian Guo yang akhirnya menikahkan putri angkatnya kepada Zhu. Tahun 1356, dengan kekuatannya sendiri, ia berhasil menaklukkan jiqing dan mengganti nama menjadi Yngtian. Yingtian inilah yang kemudian menjadi ibukota yang baru setelah Dinasti Ming berdiri.
Zhu Yuanzhang kemudian memutuskan untuk berbasis di Yingtian untuk memusatkan kekuatan demi mempersatukan daratan Cina. Pada awalnya, situasi Zhu di wilayah Yingtian sangat tidak strategi buat mengumpulkan kekuatan dalam waktu singkat. Kemudian ia menerima nasihat Zhu Sheng untuk memprkuat pertahanan dan memusatkan perhatian pada perbaikan logistik dan tidak terlalu gegabah untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja.
Kebijakan yang dibuat oleh Zhu menyebabkan ia dapat memperkuat dirinya dalam waktu singkat. Ia kemudian menyerang kekuatan pemberontak lainnya, Chen Youliang pada tahun 1360. Ia kemudian berhasil memukul mundur pasukan Chen ke Jiangzhou, wilayah pesisir sebelah timur Yingtian. Dalam waktu tiga tahun, Zhu berhasil menghancurkan kekuatan Chen.
Tahun 1367, Zhu berhasil menaklukkan Zhang Shicheng, pemberontak lainnya dan menguasai Pingjiang (sekarang Suzhou, Jiangsu). Dalam tahun yang sama, Zhu juga menghancurkan kekuatan Fang Guozhen yang pada saat itu menguasai wilayah pesisir Zhejiang. Setelah keberhasilan ini, Zhu Yuanzhang mengangkat diri sebagai kaisar pada tahun 1368, memulai sejarah Dinasti Ming selama 300 tahun ke depan. Ia menetapkan Hongwu sebagai tahun pemerintahan sehingga ia dikenal juga sebagai Kaisar Hongwu.
Pada tahun itu juga, Kaisar Hongwu melakukan ekspedisi ke utara untuk mempersatukan Cina. Kekaisaran Yuan yang saat itu telah melemah tidak dapat menghambat tentara Ming yang saat itu bermoral tinggi karena kemenangan demi kemenangan. Ibukota Yuan, Dadu berhasil dikuasai dan dibumi-hanguskan atas perintah Kaisar Hongwu. Suku Mongol kemudian berhasil diusir kembali ke padang rumput Mongol.

Setelah berhasil menghancurkan Dinasti Yuan, Kaisar Hongwu menaklukan pemberontak Ming Yuzhen di Sichuan pada tahun 1371. Sepuluh tahun kemudian, hancurnya kekuatan Raja Liang dari Dinasti Yuan di Yunnan mengukuhkan penyatuan Cina daratan di bawah Dinasti Ming.

Daftar Rujukan :
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Wiriaatmadja, Rochiati dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bnadung: Humaniora
Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia

Rabu, 25 Juli 2012

Jasmine Gandung punden


Punden Gadung punden Jasmine is one that has been retained by the community of Batu, especially the people residing in the village of Batu Banyuning. The building shows the characteristics of Hindu buildings.
Punden located in the city streets Banyuning This stone is one of the bercorakan punden Hindu religion. It can be seen from the form of a mnyerupai punden form a patterned temples Hindu. Punden Gadung Melati is a burial site that was allegedly mbah Gadung still had a relationship with former Majapahit empire. According to village elders Banyuning pack Gimo, mbah Gangung an envoy of the Majapahit to build a village that is used as a resort village. The village is named Banyuning have the meanings Banyu = water and jaundice / nodes (in the Java language) = clear. There are sources that used to be a place to meditate is now called by the name ngesong. 

Before the arrival of Islam Banyuning majority of Hindu religion, it can be found with the remains of Hindu religious parents, but now many are living a few kilometers from the village Bayuning, yaoiu Junggo village. Hindu religion is pemujuaan Soekmono hundu by statues of the gods into a specially style of popular religious nature that arise after the Religious Buda, and is usually called the Hindu religion.
Masryarakat about punden now largely patterned Islamic religion and the existence of this Budget Gandung punden mbah relatively dipertahanselamatan deskan sustainability. This is evident from the punden hygiene. As in Figure 1. Although the majority Muslim community, they see themselves not to forget the existence of this punden, with the holding of the village of salvation that was held once a year and every Friday night legi jaranan art held in this place.

Respect for people's existence is still high punden and still show the influence of Hindu culture. With the growing period did not affect public confidence in the existence punden sometimes mystical and religious.

Senin, 23 Juli 2012

temple clown (Candi Badut)


 The temple is located in the Clowns Tidar, the city of Malang. Can be reached by public transport Tidar majors. The temple is expected to more than 1400 years old and is a relic believed to Gajayana King, ruler of the kingdom Kanjuruhan as embodied in the inscription of AD 760 Dinoyo years. Clown said here comes from the Sanskrit word "Bha-dyut" which means highlight Highlight Agastya or Canopus star. It was seen on the main room of the temple which contains a pair of statues is not real in the form of Shiva and Parvati phallus and yoni. On the outer walls there are niches containing statues and Nadiswara Mahakal. In the north there is a statue of Durga niches Mahesasuramardhini. Eastern niches are statues of Ganesha. And adjacent to the South there is a statue of Shiva Agastya as Grand Master. But among all the statues were only statues of Durga Mahesasuramardhini were left.
The temple was discovered in 1921 in which the shape at the time it was just a mound of rocks, rubble and soil. The first to proclaim the existence of the Temple Clown is Maureen Brecher, a controller of the Dutch who worked in Malang. Clown temple was rebuilt in 1925-1927 under the supervision of B. De Haan of the Netherlands East Indies Bureau of Antiquities. From the results of excavations made at the time it is known that the temple has collapsed completely, except for the legs which can still be seen in that order. The temple is one of the clowns in the Hindu heritage budha.candi this as evidence of the triumph of the Kingdom of masanya.selain Kanjuruhan on the other it is a relic of evidence Songgoriti temple located in the town of Batu. although the buildings are no longer intact. There are specific signs that indicate that this temple is one of the oldest temples in Java with a decorative ornament in the form of the temple when the makara Clown at the gate. His style is similar to temples in Central Java, decoration when not using the lower jaw, as commonly found in different temples in East Java. Kinnaras decoration and Kinnari the temple stairs, in the form of a human head ornament bodied birds. Flower decoration on the walls of the temple is similar to temples and temple Kalasan Sewu in Central Java. There is no relief or other decorations on the walls of the temple which tells the story of the temple Clown.

Judging from the style of the temple there is a common style of building temples in Java, especially with complex Temgah Dieng.Satu temple, the temple master bedroom and the front associated with the length of the enclosed porch. Two, spacious master bedroom-sized wall and 3.67m 3:53 (temple in East Java has a smaller size). Three, there is a symmetrical arrangement of the temple plan in accordance with the temple in Central Java. Four, the composition of the base of the temple Clown simple shape and height. In the eighth century there was a kingdom called Kanjuruhan whose center around Malang and stand alone. Wise king named Devasimha who had a son named Gajayana. Gajayana had a daughter named Uttijana. Gajayana king made a temple for the Maharsi (Agatsya) are respected and adored in the form of a statue that was placed in a temple (the temple may Clown now). One thing that diakai to connect the temple with the Clown is a Clown Kanjuruhan kingdom. According to the inscription Dinoyo, King Gajayana also named Liswa in Sanskrit means a clown (Privileges pelawak_. Dinoyo inscriptions written in Sanskrit or Old Javanese, not anymore Pallawa letters and numbers arranged in the form Condra year Sangkala which reads: Nayana Vasurasa = 628 saka = 760M . inscription was the biggest role in the history of the source of a great empire that ever existed in Kanjuruhan Nalang Clown besides temples, temples Besuki (only a base and a Agtsya statue, located near the temple Clown), and the discovery of the local statues.

"Nandi" relics of the Hindu Budha Century 4



Indonesia is known as a multicultural country. Indonesia in the state there are various tribes, various cultures, including different religions. Religions officially recognized by Indonesia is Islam, Hinduism, Buddhism, Christianity, and Catholicism. From 5 different religions, Hinduism and Buddhism was the first to go to Indonesia or who formerly known as Nusantara. The entry of Hinduism and Buddhism brought a great influence on the development of social life in the archipelago.
According to the evidence that has been found, Hinduism first entered the archipelago is in the Kutai, on the banks of the Mahakam River, East Kalimantan around the 4th century AD. This fact is derived from the discovery of inscriptions Yupa. In the inscription Yupa did not mention the figure in the founding of the kingdom of Kutai, but the timing can be obtained by a comparison technique or techniques make use of comparisons. The letter contained the same letters the inscription Yupa in India in the 4th century AD. Since then the Hindu religion began to spread to different parts of the archipelago. In Java, the influence of Hinduism can be known with inscriptions describing the founding of the kingdom had a job that patterned Hinduism, including Tarumanegara kingdom, Mataram, Singosari, and Majapahit.
The growing influence of Buddhism Hinduism dab also indirectly affect cultural developments in various areas of the archipelago. In Hinduism known variety of the ceremonies of worship and various sacred objects. These are things that ultimately mix with the local culture that raises acculturation. One example of acculturation culture with local culture is Hindu temples. Rule-making temples in Indonesia is using the same rules as the rule-making temples in India, but the shape, relief models, and models adapted to the decoration on the temple culture of each region in Indonesia.
The influence of Hinduism and Buddhism are also very pronounced in the District Tulungagung. This is proven by the discovery of many relics of the Hindu and Buddhist in this area. Broadly speaking, the discovery of objects from the Hindu and Buddhist in Tulungagung can be grouped into two areas. The first region is the northern districts Tulungagung. In this region most of the objects found are patterned objects Hinduism, for example, is the discovery of Mirigambar temples, statues relating to the gods in the Hindu religion, as well as many found jaladwara. The second region is the southern districts Tulungagung. In this region most of the objects found are patterned objects Buddhism, for example, the discovery of Gayatri temple, Dadi temple, and temple Sanggrahan.
Tulungagung function of the temple in the district other than as a cemetery is a place of worship. God who 
was worshiped in Hinduism is Tri Murti. Tri Murti is the name for Lord Shiva, Lord Brahma and Lord Vishnu. Dewa Siwa regarded as the god of melting and is the god who has the highest position in comparison with the other gods. Lord Shiva has animal mounts (rides) are called 'Nandi'. Therefore, in some temple used to worship a statue of Shiva, Nandi.
Statue of Nandi also been found d daeerah Tulungagung. The statue was found in the Village of Spring.
Nandi statue is probably a relic of the kingdom of Majapahit. This is because at about the 15th century AD Tulungagung District, who was then still called Ngrowo the territory of the Kingdom of Majapahit. Tulungagung that was once the domain of Majapahit lead in this area are found relics of Hindu-Buddhist. Heritage of Hindu culture spread across most of northern Tulungagung, whereas most of the relics of Buddhist culture spread in the southern Tulungagung.
Most people do not understand about the meaning Tulungagung statues of Hindu-Buddhist relic is. This causes the Tulungagung not know the importance of the objects. Remains, the remains were to be less well maintained. Society just consider it as something that is worthless. That's what led to the remains, the remains of the Hindu-Buddhist like Nandi statue was brought to the museum Tulungagung.

Minggu, 22 Juli 2012

Reog Art Ponnorogo

Reog is one of the arts of the native culture of small towns namely Ponorogo. This traditional art often become debates by neighboring countries namely Malaysia that it used to be that mengeklaim is a native culture Reog, Indonesia was able to save but the culture is by registering to Reog United Nations legally-owned cultural and Indonesia.
Essentially made of series of skin Reog bamboo in a form such that it resembles a lion that has fur around the neck that is so dense, and a life in ornaments decorate the reog is a Peacock feather and skin of a tiger. Peacock feathers in the can from the results in the maintenance base of Ngawi and later in awetkan by the craftsmen reog. Then skin the Tiger used to headdresses reog retrieved from a tiger skin is dead, the intent of tiger skin which is dead is dead Tiger by itself without human intervention so that way not breaking the legislation in force in indonesia.
Reog Ponorogo in staging is done by lifting the Reog and bite on the back of his head that resembles a lion who was standing on top of it all, and a Peacock who sits in the neck of the head of a lion.
This culture is often on the encounter on a wide range of celebrations in various areas in Ponorogo plosok not alone but rather in various regions in Indonesia. And once every year as Reog Ponorogo Cultural Center Art Festival held in Indonesia follow Reog different regions all over Indonesia. So with the tersehut arts festival makes Reog is remained in the community and inedible by the globalisation era.