Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

perkembangan agama di Cina pada masa berkuasanya partai Komunis pada tahun 1949

Bendera Cina


Perubahan sistem pemerintahan dari kekaisaran menjadi Republik merupakan suatu perubahan besar yang dialami oleh bangsa Cina. Perubahan yang terjadi pada sistem pemerintahan ini ternyata turut memberikan dorongan perubahan pada bidang yang lainnya. Salah satunya adalah agama yang berkembang pada negara yang bangga disebut Tiongkok ini. Selain agama, aspek-aspek yang lain juga ikut mengalami perubahan. Sebelum mengetahui perkembangan agamanya, sebaiknya kita lebih dahulu mengetahui perkembangan politiknya, yaitu perubahan sistem pemerintahan dari kekaisaran ke Republik Cina.
Sebelum Republik Cina menjadi sistem pemerintahan, Cina dikuasai oleh dinasti yang disebut dinasti Qing. Dinasti ini berkuasa sejak tahun 1644 hingga 1911 (Soepratignyo,1999:16). Setelah adanya pemberontakan-pemberontakan di berbagai daerah di Cina, Dinasti ini tidak mampu lagi mengatasinya. Ditambah dengan keberadaan orang asing di negara itu, menambah keterpurukan Dinasti Qing. Orang asing yang di maksud adalah bangsa lain, misalnya Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, dan Jepang. Pada masa sebelumnya Cina telah membuka diri untuk melakukan perdagangan bebas dengan negara lain, terutama pada komoditi opium. Sehingga bangsa-bangsa lain berbondong-bondong untuk melakukan perdagangan di wilayah Cina.
Pada masa kekaisaran (sebelum berubah menjadi Republik Cina), Cina memiliki beberapa agama/ kepercayaan, antara lain adalah Budha, Konfusionisme, Kong Hu Cu, Taoisme, dan Nasrani. Agama Budha di Cina memiliki beberapa aliran, yaitu Budha Mahayana, Budha Therevada, dan Budha Tibet. Budha Mahayana merupakan aliran yang paling banyak penganutnya (Darini, 2010:60). Konfusionisme dan Kong Hu Cu adalah agama atau kepercayaan yang tumbuh dari kepercayaan masyarakat Cina sendiri, sedangkan Budha dan Nasrani adalah agama pendatang. Agama itu dibawa oleh pedagang-pedagang Asing yang datang ke Cina pada saat melakukan perdagangan.
Pada masa pemerintahan Kekaisaran yang terakhir, yaitu Dinasti Qing, keadaan Cina semakin buruk. Keadaan yang kacau di Cina tidak dapat ditangani dengan baik oleh pemerintah, ditambah pula oleh kaisarnya yang terakhir adalah seorang anak yang berumur dua tahun. Masyarakat semakin tidak sabar dengan keadaan di negaranya. Kemudian para akademisi memikirkan solusi yang tepat untuk negaranya. Ibaratnya, Cina sudah diambang kehancuran, sedangkan masyarakat berusaha menggunakan bantuan dari negara lain. Ketika itu, bantuan dari Inggris dan Perancis tidak mampu mengatasi permasalahan Cina, sehingga Bantuan dari Rusia yang notabene adalah negara komunis digunakan. Pemikiran Rusia mengenai “menggunakan kekerasan untuk menduduki kekuasaan politik” dari teori Marxisme-Leninisme dimasukkan ke Cina yang belum pernah mengenal Komunisme itu (Sutopo, 2009:94).
Rusia merupakan negara yang telah berhasil melakukan perubahan pada negaranya. Perubahan ini yang disebut sebagai Revolusi Rusia terutama didalangi oleh Partai Komunis Rusia terjadi pada tahun 1917. Partai ini memiliki keinginan dan keyakinan bahwa negara Rusia akan menjadi negara modern dengan ideologi komunis. Untuk itu, Rusia yang berubah menjadi Uni Soviet terobsesi untuk menyebarkan paham komunisme ke wilayah Cina dengan mengadakan hubungan diplomasi sebagai langkah awalnya (Taniputra, 2008:550). Langkah pertama yang dilakukan oleh Uni Soviet adalah membentuk Biro Timur Jauh yang merupakan cabang dari Komintern (Komunis Internasional). Biro ini yang mempersiapkan pembentukan Partai Komunis Cina (PKC) serta negara-negara lainnya di Timur Jauh.
Sebagian masyarakat Cina mulai mengenal komunisme, sehingga mereka meyakini bahwa doktrin-doktrin Kong Hu Cu dan agama-agama tradisional lainnya akan menghambat perbaikan pada negara Cina. Mereka berpendapat bahwa Konfusionisme dan Taoisme mendukung feodalisme dan kapitalisme. Sedangkan agama lainnya merupakan agama dari negara Asing, sehingga tidak diperkenankan karena mereka takut akan datangnya kolonialisme kembali di wilayah mereka. Pemerintah yang didominasi oleh PKC (Partai Komunis Cina) menghambat kegiatan yang dilakukan oleh agama-agama di Cina. Namun ada pula sebagian masyarakat yang tidak setuju dengan adanya komunis, sehingga terdapat perpecahan di Cina antara yang pro-komunis dengan anti-komunis. Akhirnya Cina pecah menjadi dua antara Cina pimpinan Mao Zedong yang beraliran  Komunis dan pimpinan Chiang Kai Shek yang beraliran Nasionalis (Sutopo, 2009:100).
Sejak komunis memasuki Cina dan pemerintahan dikuasai oleh paham komunis tahun 1949, semua kegiatan yang ada di Cina harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pihak pemerintah yang didominasi PKC. Di beberapa daerah di Cina bahkan pemerintah terlibat langsung ketika membubarkan Konfusianisme, Taoisme, Budha, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan (Darini, 2010:61). Kegiatan yang dilakukan oleh anggota keagamaan atau pemeluk agama Konfusianisme, Taoisme, Budha, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan dilarang. Bahkan terjadi perusakan atau bahkan pemusnahan tempat-tempat keagamaan di Cina ketika itu.
Revolusi kebudayaan tahun 1966 yang diprakarsai oleh Mao Zedong menambah kehancuran kebudayaan asli masyarakat Cina. Revolusi ini dimaksudkan untuk menjadikan komunis sebagai satu-satunya paham di Cina, sehingga tidak diperkenankan lagi filasafat-atau kepercayaan di luar komunis atau yang menentang paham komunis itu. Pada Revolusi kebudayaan itu, banyak peninggalan-peninggalan kebudayaan di Cina. Misalnya adalah pemusnahan buku-buku yang berkaitan dengan paham-paham di luar komunis, bangunan-bangunan peninggalan kuno dirobohkan, makam-makam pemikir kuno juga dihancurkan. Hal itu dilakukan agar masyarakat tidak lagi mempelajari paham-paham lainnya selain Komunis. Makam-makam pemikir kuno juga dihancurkan agar masyarakat tidak lagi mengenang orang-orang yang penting bagi paham-paham di luar komunis yang dulu mereka anut. Begitu pula peninggalan kuno juga dilenyapkan.
Dengan tiadanya fasilitas keagamaan itu, dapat dipastikan bahwa kegiatan agama menjadi terhambat. Jika lama kelamaan kegiatan keagamaan dihambat, maka akan membunuh dan melenyapkan agama itu karena keimanan mereka akan pudar seiring intensitas beragama berkurang. Selain bangunan keagamaan, orang yang berpengaruh dalam keagamaan, misalnya pemimpin ritual keagamaan juga dibunuh atau jika tidak maka dilarang untuk memimpin keagamaan lagi. Karena pemimpin keagamaan memegang peran penting dalam perkembangan suatu agama. Dengan keberadaan pemimpin keagamaan yang bebas mengembangkan agama, maka tentu saja agama itu akan berkembang pesat pula. Demikian pula jika pemimpin keagamaan itu dikekang, maka agama itu juga akan terkekang, bahkan akan tumbang dengan seiring waktu.

Daftar Rujukan :
Darini, Ririn. 2010. Garis Besar Sejarah Cina Era Mao. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia
Soepratignyo. 1999. Sejarah Singkat Asia Timur. Malang: Institut Keguruan Ilmu Pendidikan
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Sutopo, FX. 2009. Cina: Sejarah Singkat. Yogyakarta: Garasi
Taniputera, Ivan. 2008. History of China. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Wiriatmaja, Rochiati, dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina: Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bandung: Humaniora

perkembangan agama di Cina sebelum berkuasanya partai Komunis pada tahun 1949

Bendera Cina


Penghujung Dinasti Yuan ditandai oleh adanya pemerintahan yang korup, pajak, dan inflasi yang tinggi. Hal ini semakin diperparah dengan adanya sikap bangsa Mongol yang suka bertindak sewenang-wenang. Kekaisaran kemudian mengganti mata uang yang telah beredar sejak zaman Kubilai Khan dengan mata uang baru. Mata uang ini baru dicetak dalam jumlah besar sehingga menyebabkan hiperinflasi. Hal ini kemudian menyebabkan perekonomian ambruk dan bencana kelaparan merebak dimana-mana. Pada tahun 1351, terjadi bencana banjir besar yang diakibatkan Sungai Kuning meluap. Kekaisaran kemudian menyuruh rakyat melakukan kerja paksa untuk memperbaiki bendungan Sungai Kuning. Kerja paksa ini kemudian menyebabkan ketidakpuasan rakyat dan akhirnya me nimbulkan pemberontakan petani yang terjadi pada bulan Mei 1351.
Pada tahun berikutnya Guo Zixing memimpin pemberontakan dan berhasil menguasai wilayah Haozhou. Ketika Guo Zixing melakukan pemberontakan Zhu Yuanzhang juga ikut berpartisipasi dan berjasa dalam beberapa pertempuran. Jasa Zhu kemudian menarik perhatian Guo yang akhirnya menikahkan putri angkatnya kepada Zhu. Tahun 1356, dengan kekuatannya sendiri, ia berhasil menaklukkan jiqing dan mengganti nama menjadi Yngtian. Yingtian inilah yang kemudian menjadi ibukota yang baru setelah Dinasti Ming berdiri.
Zhu Yuanzhang kemudian memutuskan untuk berbasis di Yingtian untuk memusatkan kekuatan demi mempersatukan daratan Cina. Pada awalnya, situasi Zhu di wilayah Yingtian sangat tidak strategi buat mengumpulkan kekuatan dalam waktu singkat. Kemudian ia menerima nasihat Zhu Sheng untuk memprkuat pertahanan dan memusatkan perhatian pada perbaikan logistik dan tidak terlalu gegabah untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja.
Kebijakan yang dibuat oleh Zhu menyebabkan ia dapat memperkuat dirinya dalam waktu singkat. Ia kemudian menyerang kekuatan pemberontak lainnya, Chen Youliang pada tahun 1360. Ia kemudian berhasil memukul mundur pasukan Chen ke Jiangzhou, wilayah pesisir sebelah timur Yingtian. Dalam waktu tiga tahun, Zhu berhasil menghancurkan kekuatan Chen.
Tahun 1367, Zhu berhasil menaklukkan Zhang Shicheng, pemberontak lainnya dan menguasai Pingjiang (sekarang Suzhou, Jiangsu). Dalam tahun yang sama, Zhu juga menghancurkan kekuatan Fang Guozhen yang pada saat itu menguasai wilayah pesisir Zhejiang. Setelah keberhasilan ini, Zhu Yuanzhang mengangkat diri sebagai kaisar pada tahun 1368, memulai sejarah Dinasti Ming selama 300 tahun ke depan. Ia menetapkan Hongwu sebagai tahun pemerintahan sehingga ia dikenal juga sebagai Kaisar Hongwu.
Pada tahun itu juga, Kaisar Hongwu melakukan ekspedisi ke utara untuk mempersatukan Cina. Kekaisaran Yuan yang saat itu telah melemah tidak dapat menghambat tentara Ming yang saat itu bermoral tinggi karena kemenangan demi kemenangan. Ibukota Yuan, Dadu berhasil dikuasai dan dibumi-hanguskan atas perintah Kaisar Hongwu. Suku Mongol kemudian berhasil diusir kembali ke padang rumput Mongol.
Setelah berhasil menghancurkan Dinasti Yuan, Kaisar Hongwu menaklukan pemberontak Ming Yuzhen di Sichuan pada tahun 1371. Sepuluh tahun kemudian, hancurnya kekuatan Raja Liang dari Dinasti Yuan di Yunnan mengukuhkan penyatuan Cina daratan di bawah Dinasti Ming.

Confusius (552 SM)

Diantara filsuf yang masa hidupnya banyak mengalami kekecewaan dan kurang mendapat penghargaan ialah Confucius. Menurut kisah dan dongeng dalam tradisi yang bersifat biografi tentang orang keramat atau suci (Holy Man) yang disebut historiografi, Confisius merupakan orang yang berasal dari keturunan golongan bangsawan yang tidak mampu. Ada yang menduga bahwasannya Conficius berasal dari keturunan bangsawan Dinasti Shang. Ia memiliki nama asli yaitu Kung Tzu (Pujangga Kung) atau disebut pula Fu Tzu (Pujangga Besar) (Wiriaatmadja, 2003:109).
Para sejarawan memperkirakan bahwa Conficius lahir pada tahun 551 atau 552 SM. Conficius merupakan orang yang dikenal sebagai seorang yang konservatif yang kerap kali berbicara tentang “Jalannya para mantan Raja”. Namun, banyak gagasannya yang revolusioner dan mendahului pemikiran para filsuf Pencerahan Eropa seperti John Locke. Conficius menentang penggunaan garis keturunan dalam penentuan status dan kekuasaan. Ia berpendapat bahwa pemerintah harus melayani rakyatnya dan bukan sebaliknya. Ia kemudian menawarkan aturan moral yang didasarkan pada niat baik yang kurang lebih tergambarkan dalam pernyataan “Jangan perlakukan orang lain dengan cara yang tidak Anda sukai bila menimpa diri sendiri”. Setelah ia meninggal, beberapa pengikutnya kemudian bekerja di kantor-kantor pemerintahan. Para pengikut Conficius ini kemudian menyebarkan ajaran-ajarannya kepada orang-orang secara lisan. Setelah beberapa generasi kemudain, jaran-ajaran tersebut dibukukan dalam kitab Lun Yu atau Analects yang masih lestari hingga sekarang. Ajaran-ajaran ini kemudian menjadi Landasan Pendidikan Cina sekitar 2.000 tahun hingga tahun 1911. Ketika Revolusi Nasional menggulingkan Dinasti Qing. Selama dua milenium lamanya, pengetahuan tentang aliran Confisianis menjadi persyaratan utama bagi calon Pegawai Negeri di Cina (Lam N. Mark, 2007:18-19).

Konfusianisme
Konfusianisme atau Konghuchu mulai dikenal di Cina melalui pemikiran-pemikirannya yang cemerlang yang dilontarkan pada zaman Chou Timur (770-221 SM). Konghuchu lahir pada tahun 551 SM berasal dari kota Lu, Provinsi Shandong. Pada masa itu dinasti Chou tengah kehilangan kendali terhadap para tuan tanah yang menempati hampir setengah bagian dari wilayah Cina. Konghuchu dibesarkan oleh ibunya karena ia sudah kehilangan ayahnya ketika masih berusia tiga tahun. Ketika dewasa dan bekerja sebagai pegawai di kuil bangsawan Zhou, ia mengikuti semua detail-detail yang terdapat dalam perayaan yang akhirnya menjadikannya sebagai seorang yang ahli dalam ritual agama kuno.
Konfusianisme merupakan humanisme, tujuan yang hendak dicapai adalah kesejahteraan manusia dalam hubungan yang harmonis dengan masyarakatnya. Kodrat manusia menurut konfusius adalah “pemberian langit”, yang berarti bahwa dalam hal tertentu ia berada di luar piliham manusia. Kesempurnaan manusia terletak dalam pemenuhannya sebagai manusia yang seharusnya. Moralitas merupakan realisasi dari rancangan yang ada dalam manusia. Oleh karena itu, tujuan manusia yang paling tinggi adalah menemukan petunjuk sentral bagi moral yang mempersatukan manusia dengan seluruh isi alam semesta. Bagi Konfusius, manusia adalah baian dari konstitutif dai seluruh isi alam semesta. Manusia harus berhubungan secara indah dan harmonis dengan harmoni alam di luarnya. Ungkapan yang paling terkenal yang merupakan inti ajarannya yaitu tidak berbuat kepada orang lain apa yang dia tidak sukai orang lain perbuatan pada dirinya. Secara praktis ajaran Konfusius dapat disimpulkan menjadi tiga pokok yaitu:

1. Pemujaan terhadap Tuhan (Thian)
Konfusius mengajarkan keyakinan kepada pengikutnya bahwa Thian atau Tuhan menjadi awal atas sumber kesadaran alam semesta dan segalanya. Ia menekankan bahwa amat perlu untuk melakukan sembahyang korban terhadap Thian. Pengertian Tuhan dalam kepercayaan Tionghoa sebenarnya juga tidak berbeda dengan agama-agama yang lain yaitu sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya. Dalam kepercayaan kalangan rakyat, Tuhan biasanya disebut sebagai Thian atau Shangdi atau Siang Te (dialek Hokkian). Thian adalah penguasa tertinggi alam semesta ini. Karena itu, kedudukan-Nya berada di tempat yang paling agung, sedangkan para dewa dan malaikat yang lain adalah para pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan di alam semesta ini, sesuai dengan fungsinya masing-masing. Di dalam sistem pemerintahan ini, merupakan cerminan dari prinsip Yin dan Yang, yang diwujudkan dalam bentuk pemerintahan di dunia dan pemerintahan surga yang dilakukan oleh para dewa yang dipuncaki oleh Shangdi. Rakyat percaya pemerintahan surga memiliki struktur yang sama dengan pemerintahan dunia. Kalau pemerintahan dunia terdiri dari kaisar, para keluarganya, perdana menteri, menteri-menteri sipil dan militer, dan lain sebagainya, maka pemerintahan surga pun dipimpin oleh Shangdi dan dibantu para dewa-dewa baik sipil maupun militer untuk mengatur tata tertib di alam semesta ini. Sebab inilah maka para kaisar (hung-di) yang di bumi merasa perlu untuk memuja Shangdi (yang berkedudukan di atas) untuk memohon perlindungan dan berkah serta petunjuk-petunjuk untuk menjalankan roda pemerintahan di mayapada ini agar selalu selaras dengan kehendak Shangdi (Shang=di atas, di=tanah).

2. Pemujaan terhadap leluhur
Pemujaan terhadap leluhur adalah menolong seseorang untuk mengingat kembali asal-usulnya. Di sini asal mula manusia adalah dari leluhurnya. Upacara pemujaan terhadap leluhur di sini diperlukan sesaji. Sebagian besar aktifitas rumah tangga dalam keluarga Cina selalu berhubungan dengan roh leluhur. Salah satu fungsi utama dalam keluarga adalah melakasanakan pemujaan terhadap leluhur. Pemujaan leluhur dipandang sebagai perwujudan dari bakti anak terhadap orang tua dan leluhurnya (Xiao). Pelaksanaan upacara pemujaan leluhur dalam keluarga dipimpin oleh ayah sebagai kepala keluarga. Keluarga Cina menganut garus keturunan dari pihak ayah atau disebut patrilineal. Garis keturunan sangat penting bagi mereka guna menjaga kelangsungan keluarga. Oleh karena itu, anak laki-laki sangat penting untuk meneruskan garis keturunan.

3. Penghormatan terhadap Konfusius
Bagi orang Cina merupakan kewajiban mereka untuk menghormati Konghuchu yang mereka anggap sebagai guru besar seperti halnya penghormatan terhadap orang tua. Konghuchu dianggap telah berjasa dalam mengajarkan dasar-dasar ajaran moral yang sampai sekarang masih terus diterapkan. Filsafatnya yang pada akhirnya menyatu dengan kehidupan masyarakat Cina membuat secara keseluruhan ajaran Konfusius lebih banyak ditujukan kepada manusia sebagai makhluk hidup.


Buddhisme
Agama Buddha sudah menjadi bagian dari filosofi Cina selama hampir 2000 tahun. Meskipun Buddha bukanlah merupakan agama asli, melainkan pengaruh dari India, tetapi ajaran Buddha mempunyai pengaruh yang cukup berarti pada kehidupan orang Cina. Tema pokok ajaram agama Buddha adalah bagaimana menghindarkan manusia dari penderitaan (samsara). Kejahatan adalah pangkal penderitaan. Manusia yang lemah, tidak berpengetahuan (akan Buddhisme) akan sangat mudah terkena kejahatan dan sulit untuk membebaskan diri dari penderitaan.

Pendiri agama Buddha adalah Sidharta Gautama. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan di India. Sewaktu kecil, ayahnya menjauhkan Sidharta dari segala macam bentuk penderitaan dunia, sampai pada suatu hari secara tidak sengaja ia melihat orang-orang yang selama ini belum dilihatnya yaitu orang-orang tua, seorang yang sakit dan yang meninggal. Kenyataan tersebut membuatnya kemudian meninggalkan istana dan bertapa di bawah pohon bodhi. Setelah bertapa selama enam tahun akhirnya ia memperoleh pencerahan dengan menemukan obat penawar bagi penderitaan, jalan keluar dari lingkaran tanpa akhir yaitu melalui kelahiran kembali kepada suatu jalan menuju Nirwana. Jalan ini yang kemudian dikenal juga sebagai inti dari ajaran Buddha.

Buddhisme masuk ke Cina kira-kira abad 3 Masehi, pada masa pemerintahan dinasti Han. Buddhisme selanjutnya mengalami perkembangan sendiri di negara tersebut. Ajarannya di Cina mendapat pengaruh dari kepercayaan yang sudah ada sebelumnya yaitu Taoisme dan Konfusiansianisme. Hal yang paling kentara dari percampuran ini ialah dengan munculnya sekte Shan, yang juga muncul di Jepang dengan nama Zen yang merupakan Buddhisme India bercorak Taoisme Cina. Wujud dari agama ini adalah timbulnya versi-versi signifikan dari dewata-dewata buddha, seperti Avalokitecvara, Maitreya, dan sebagainya. Avalokitecvara berubah menjadi Dewi Welas Asih (Guan Yin atau Kwan Im). Dewi ini sangat populer sekali di kalangan orang Cina, tempat orang memohon pertolongan dalam kesukaran, memohon keturunannya, dan lain sebagainya. Kwan Im dalam penampilannya mempunyai 33 wujud, diantaranya yang paling populer adalah Kwan Im berbaju putih, Kwan Im membawa botol air suci, dan Kwan Im bertangan seribu. Dalam Avalokitecvara, Maitreya juga mempunyai wujud lain di Cina yaitu Mi le fo, seorang yang bertubuh gemuk dan raut muka yang selalu tertawa. Dewa ini dikenal sebagai dewa pengobatan.
Selain dewata-dewata Buddhis, di dalam sistem kepercayaan rakyat Cina mengenal tiga penggolongan utama dewata, yaitu:
  1. Dewata penguasa alam semesta yang mempunyai wilayah kekuasaan di langit. Para dewata golongan ini dipimpin oleh dewata tertinggi yaitu Yu Huang Da Di, Yuan Shi Tian Sun, dan termasuk di dalamnya antara lain dewa-dewa bintang, dewa kilat, dan dewa angin.
  2. Dewata penguasa bumi yang memiliki kekuasaan di bumi, walau sebetulnya mereka termasuk malaikat langit. Kekuasaan mereka adalah dunia dan manusia, termasuk akhirat. Mereka dikatakan sebagai para dewata yang menguasai Wu-Xing (lima unsur), yaitu: (a) kayu (dewa hutan, dewa kutub, dan lain sebagainya); (b) api (dewa api, dewa dapur); (c) logam (dewata penguasa kekayaan dalam bumi); (d) air (dewa sumur, dewa sungai, dewa laut, dewa hujan, dan lain sebagainya); (e) tanah (dewa bumi, dewa gunung, penguasa akhirat, dewa pelindung kota, dan lain sebagainya)
  3. Dewata penguasa manusia, yaitu para dewata yang mengurus soal-soal yang bersangkutan dengan kehidupan manusia seperti kelahiran, perjodohan, kematian, usia, rezeki, kekayaan, kepangkatan dan lain sebagainya. Termasuk dalam golongan dewata penguasa manusia ini adalah para dewata pelindung usaha pertokoan, dewata pengobatan, dewata pelindung, dan peternakan ulat sutra. Di samping itu, terdapat dewata-dewata kedaerahan yang menjadi pelindung masyarakat yang berasal dari daerah yang sama.


Daftar Rujukan :
Darini, Ririn. 2010. Garis Besar Sejarah Cina Era Mao. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia
Soepratignyo. 1999. Sejarah Singkat Asia Timur. Malang: Institut Keguruan Ilmu Pendidikan
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Sutopo, FX. 2009. Cina: Sejarah Singkat. Yogyakarta: Garasi
Taniputera, Ivan. 2008. History of China. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Wiriatmaja, Rochiati, dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina: Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bandung: Humaniora

Cina pada abad 21 Masehi



Keadaan Keadaan Demografis, Geografis, dan Ekonomi di Cina pada Abad 21 Masehi

Negara China merupakan negara yang juga disebut dengan tirai bambu. China selalu mengalami dinamika atau perkembangan pada berbagai aspek. Misalkan pada pembangunan fisik, kemajuan ekonomi, hingga kehidupan sosial budayanya. Hal tersebut dapat dirangkum dalam tiga sub pembahasan dalam bidang Demografis, Geografis, dan Ekonomi yang ada diuraikan satu persatu pada penjelasan dibawah ini.

  • Demografis
  • Republik Rakyat Cina memandang dirinya sebagai multi-etnis dengan sebanyak 56 etnis yang diakui. Akan tetapi, yang mendominasi dari sebagian dari multi-etnis tersebut adalah etnis Han yang menyusun hampir 93% dari populasi yang ada sehingga menguasai hampir setengah daerah Cina. Penduduk bangsa Han adalah etnis yang heterogen, atau dapat dikatakan sebagai kumpulan berbagai etnik yang menggunakan budaya dan bahasa yang sama. Bahasa yang digunakan adalah bahasa China dan dianggap sebagai satu bahasa atau keluarga bahasa. Sedangkan subdevisi terbesar dari bahasa China adalah bahasa Mandarin. Versi bahasa Mandarin yang dalam dialek Beijing disebut dengan Putonghua. Bahasa ini diajarkan di sekolah dan juga digunakan sebagai bahasa resmi negara China.
    Pada tahun 1949 telah terjadi revolusi Komunis di negara Cina yang menjadikan 59 persen penduduknya menganut paham ateis. Akan tetapi, penduduk yang 33 persen dari mereka masih menganut kepercayaan tradisi atau gabungan dari kepercayaan Budha dan Taoisme. Penganut terbesar agama di negara ini adalah Budha aliran Mahayana yang berjumlah 100 juta orang. Selain itu juga ada yang menganut Budha Therawadha dan Budha Tibet yang telah diamalkan oleh golongan monoritas etnis di perbatasan barat laut negara ini. Diperkirakan ada 18 juta penduduk Islam (kebanyaan Sunni) dan 14 Juta Kristen (4 Juta Katolik dan 10 Juta Protestan) di negara ini.
    Negara Cina telah lama mengalami masalah di bidang kependudukan. Dalam usaha membatasi perkembangan populasi penduduk, pemerintah Cina telah mengambil kebijakan dengan membatasi keluarga di perkotaan (etnis minoritas, seperti Tibet dikecualikan) menjadi satu anak sedangkan di pedalaman dua anak (anak pertama adalah perempuan). Akan tetapi, karena lelaki dianggap lebih memiliki nilai ekonomis di wilayah pedesaan maka muncullah insiden tinggi mengenai aborsi selektif jenis kelamin dan penolakan anak di pedesaan bahwa anak kedua adalah laki-laki. Kebijakan ini hanyalah untuk penduduk mayoritas bangsa Han.
    Di Cina juga terdapat panti asuhan untuk anak yatim dan anak terlantar. Akan tetapi hanya 2 persen saja yang dijadikan anak angkat oleh orang lain. Maka Cina juga telah menginstitusikan program pengambilan anak angkat tingkat internasional, yaitu supaya ada penduduk dari negara lain yang datang untuk menjadikan anak-anak di panti asuhan tersebut sebagai anak angkat.
    Kemudian pada tahun 2000, terjadi perbandingan jumlah kelahiran laki-laki sebanyak 117 anak dengan jumlah perempuan sebanyak 100 anak. Ini adalah jumlah perbandingan yang tinggi, karena biasanya hanya 106:100. Meskipun perbandingan ini disebabkan oleh adanya seksisme, akan tetapi pada masa modern ini dikaitkan dengan penyakit hepatitis. Untuk menanggulangi penyakit ini, maka pemerintah Cina telah menekan harkat kepada para perempuan.
    Pada hasil perbandingan yang dikatakan tidak seimbang tersebut, maka mewujudkan 30-40 juta laki-laki yang tidak bisa menikah dengan perempuan. Hal ini menyebabkan banyaknya laki-laki yang mencari gadis idaman di negara-negara lain dan di pusat-pusat lokalisasi. Kemudian juga pada beberapa kasus terdapat gadis-gadis yang telah diculik dan dijual sebagai istri di perkampungan yang jauh (Sutopo, 2009:13-15).
    •  Geografis

    Nama resmi bagi Cina adalah Republik Rakyat Cina (RRC), yang juga telah menguasai sebagian besar wilayah Asia bagian Timur. Republik Rakyat Cina terdiri dari pulau-pulau termasuk Taiwan dan juga termasuk negara terbesar keempat di dunia yang memiliki daratan yang luas. Di sebelah timur terdapat pantai Laut Kuning dan Laut Cina timur yang luas dan padat. Sedangkan pesisir laut Cina lebih bergunung-gunung. Bagian selatan didominasi oleh daerah berbukit dan jajaran gunung-gunung yang rendah. Pada bagian tengah timur terdapat delta dari dua sungai besar di Cina,  yaitu Huang He dan Chang Jiang. Terdapat juga sungai-sungai utama lainnya adalah Xi Jiang, Mekong, Brahmaputra, dan Amur.
    Bagian barat wilayah Cina terdapat jajaran gunung-gunung yang utama, khususnya Himalaya dengan titik tertinggi di Cina Gunung Everest. Sedangkan ciri-ciri plato tinggi yang berada diantara bentang daratan yang lebih kering dari gurun seperti Takla-Makan dan Gobi. Musim kemarau panjang dan rendahnya pertanian telah membuat adanya badai debu yang menjadi suatu hal yang sudah biasa bagi masyarakat Cina pada musim semi (Sutopo, 2009:12-13).

    • Ekonomi

    Republik Rakyat Cina telah mencirikan sistem ekomoninya dengan sosialisme.  Sejak tahun 1978, pemerintah Cina telah mengadakan perbaikan dari yang semula menganut sistem ekonomi terencana ala Uni Soviet ke Ekonomi yang berorientasi pada pasar. Akan tetapi, hal ini masih ada pada kerangka kerja politik yang kaku dari Partai Komunis Cina. Oleh karena itu, maka para pejabat telah melakukan peningkatan kekuasaan pada pejabat lokal dan memasang manager di dalam produksi, mengijinkan perusahaan skala kecil dalam melakukan jasa dan produksi ringan. Selain itu juga telah menbuka ekonomi terhadap perdagangan asing dan investasi.
    Pemerintah Cina mewajibkan adanya sistem pertanggungjawaban pada para keluarga didalam pertanian untuk menggantikan sistem lama yang berdasarkan penggabungan.selain itu pemerintah juga menambah kuasa pegawai setempat dan pengurus kilang dalam industri, mengijinkan berbagai usahawan dalam layanan dan perkilangan ringan. Tidak hanya itu saja, bahkan juga membuka ekonomi pada perdagangan dan pelabuhan asing, serta pengawasan terhadap harga juga telah dilonggarkan. Hal ini mengakibatkan wilayah Cina daratan mengalami perubahan dari ekonomi terpimpin menjadi ekonomi campuran.
    Pemerintah Cina menekankan pada peningkatan pendapatan pribadi dan konsumsi, serta memperkenalkan sistem managemen baru untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu pemerintah memfokuskan diri pada perdagangan asing sebagai kendaraan utama untuk pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, maka mereka mendirikan 2000 Zona Ekonomi Khusus, yaitu adanya hukum investasi yang direnggangkan sebagai metode untuk menarik modal asing. Hasilnya yaitu pada meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) empat kali lipat sejak tahun 1978.
    Pada tahun 1999, Cina menjadi negara ekonomi keenam terbesar di dunia dalam segi nilai tukar mata uang, serta ketiga terbesar di dunia setelah Uni Eropa dan USA dalam segi daya beli. Perkembangan ekonomi Cina dinilai sebagai salah satu yang tercepat di dunia, yaitu sekitar 7 sampai 8 persen per tahun menurut daftar statistik pemerintah Cina. Hal inilah yang menjadikan Cina sebagai fokus utama dunia, dan mengakibatkan hampir semua negara ingin menjalin hubungan dengannya.
    Sejak 1 Januari 2002, Cina telah masuk dalam anggota WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). Pada tahun ini, Cina juga telah mengekpor dolar sejumlah 125 miliar kepada USA. Sedangkan ekspor yang diberikan USA ke Cina adalah 19 miliar dolar. Adanya perbedaan ini disebabkan oleh fakta yang menyebutkan bahwa orang Amerika telah mengkonsumsi lebih dari yang mereka produksi, sedangkan orang Cina yang dibayar rendah tidak mampu untuk membeli produk mahal. Selain itu, Pertukaran valuta asing antara Cina dan USA terjadi tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh Cina yang mengikatkan kadar tetap 8 renmimbi pada 1 dolar.
    Pada tahun 2003, PDB Cina menjadi terbesar di dunia dalam segi purchasing power parity dengan mencapai 6,4 triliun. Sedangkan dengan menggunakan penghitungan konvensional, Cina diurutkan adalam posisi ketujuh. Laporan ekonomi untuk tahun yang sama ini adalah 9,1 persen. Adanya ukuran ekonomi yang amat luas dan memiliki budaya yang panjang, maka membuat Cina mempunyai tradisi menjadi sebuah negara penguasa ekonomi.

    Meski begitu, ternyata telah terjadi kesenjangan kekayaan antara Cina kawasan pesisir pantai dengan Cina daratan atau pedalaman. Untuk mengantisipasi bahaya kesenjangan ini, maka Pemerintah Cina telah melaksanakan strategi pembangunan Cina Barat pada tahun 2000, Pembangunan Kembali Cina Timur Laut pada tahun 2003, dan Kebangkitan Kawasan Cina Tengah pada tahun 2004. Semuanya itu bertujuan untuk membantu kawasan Cina pedalaman supaya dapat ikut membangun dan maju bersama (Sutopo, 2009:15-18).

    Daftar Rujukan :
    Darini, Ririn. 2010. Garis Besar Sejarah Cina Era Mao. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
    Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia
    Soepratignyo. 1999. Sejarah Singkat Asia Timur. Malang: Institut Keguruan Ilmu Pendidikan
    Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
    Sutopo, FX. 2009. Cina: Sejarah Singkat. Yogyakarta: Garasi
    Taniputera, Ivan. 2008. History of China. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
    Wiriatmaja, Rochiati, dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina: Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bandung: Humaniora

    PERKEMBANGAN AGAMA DI CINA PADA MASA BERKUASANYA KOMUNIS PADA TAHUN 1949


    Masyarakt Cina & Wilayah Cina


    Latarbelakang Perkembangan Agama di Cina pada masa berkuasanya komunis Tahun 1949 Cina adalah negara yang menerapkan sistem komunisme pada pemerintahannya hingga kini. Sistem komunisme menjadikan agama terlalu berkembang di masyarakat. Mengingat komunisme menjadikan materi sebagai poros penggerak dalam kehidupan, maka agama tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Komunisme sendiri muncul hampir bersamaan dengan masuknya Inggris ke Indonesia pada sekitar abad 19 yang kemudian membawa berbagai paham di Eropa. Akibatnya, muncullah komunisme sebagai reaksi atas masuknya paham-paham tersebut.
                Komunisme sendiri mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Mao Tse Tung. Mao Tse Tung sebagai pemimpin yang berideologi komunis berhasil menduduki pemerintahan setelah berhasil menggulingkan kekuasaan sebelumnya melalui kudeta yang penuh dengan darah. Adanya berbagai pergolakan pasca munculnya komunisme di Cina membuat para penulis tertarik untuk mencari tahu  perkembangan Cina pada masa berkuasanya komunisme, khususnya perkembangan dalam bidang agama.
                Makalah yang berjudul “Perkembangan Agama di Cina Pada Masa Berkuasanya Komunis Pada Tahun 1949”  ini akan dibagi menjadi beberapa sub bab pembahasan yang terdiri atas demografi dan kondisi Cina saat ini, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai perkembangan agama pada masa dinasti Ming dan Qing sebagai dinasti yang pertama kali menerapkan Confusianisme yang mirip dengan komunisme yang untuk selanjutnya mengakar menjadi agama Kong Hu Chu. Terakhir, akan dibahas bagaimana perkembangan agama di Cina pada masa berkuasanya komunisme yang dipimpin oleh Mao Tse Tung.

    Rabu, 25 Juli 2012

    Robustness of the Temple Cetho Religious Communities in the Middle Diversity in Karanganyar

    Abstract: The temple is located in the district Cetho Karanganyar, Java Tenggah. This temple is a prehistoric relic temple, Hindus, and even today the temple is still in use as a place for the Hindu Religious ritual, whether that is around temples or people from outside the area who just want to enjoy and feel the beauty that exists around the temple. 


    Preliminary The temple is a place of worship of Hindus. Hindu religion is one religion in Indonesia. Indonesia is a plural society the state so natural that many religions that can be encountered here. The arrival of Hindu religion to the archipelago and gave India its influence when it comes to the archipelago nation and spread its influence into the aquatic area around the 4th century. This allegation was strengthened by the temukannya 7 yupa fruit in the form of inscriptions. The inscription reads letters Pallawa and Sanskrit language (Soekmono; 1973: 35). 7 pieces of this inscription is the monument that is used for sacrificial ceremonies. Of ceremonies that can be undertaken at the conclusion that in the Kutai pull any real hindu influence. Then the influence of Hindu religion spread throughout the archipelago, and that gets the most influence is the area of ​​Java. Relics of ancient historic sites, especially in the kingdoms of the Hindu character of many scattered throughout the archipelago. But in Java Tenggah is where we meet most temples are Hindu or Buddhist-style. Temples Buddhist heritage hindu kingdom is still awake and still preserved as a tourist tujan and also as a religious ritual for Hindu and Buddhist faiths. In its development the temples this one started buying into the damaged and some are affected by natural disasters like earthquake in Yogyakarta to knock down the order of the temples there.

    The location of the Temple Cetho Cetho temple is situated at an altitude of 1470 m above sea level. This temple was built on sloping land next to the slope of 150 o .. Cetho temple is oriented towards the east building. Cetho temple-shaped building terraces, totaling thirteen terrace and patio-terrace arrangement of an array of our porch. Until now, the temple complex is used by locals as a Hindu shrine and popular as a hermitage for the original religion of Java or Javanese (Saringedyati, 2008: 20). Location is the location of the temple is at the foot Cetho Lawu. the administrative area is located on the border between Karanganyar district which is the province of Central Java with Magetan, East Java Province. While the summit itself Lawu measured from Greenwich is located on 111 090 and 70 390.2. Lawu peak can be climbed via passage through, among others who entered the temple Cetho kecamtan Jenawi located on the western path, or road through the district Cemoro sewu Tawangmangu on the south track. Another trajectory through the District Ngrambi Ngawi, and Sarangan Magetan. Cetho temple is located at almost the top of the mountain Lawu. Lawu today is one of the famous mountain as a place that is used for meditation for most of the cult followers. Cetho temple is located enshrinement area located at higher elevations. The surrounding of the temple there are pohoh Cetho fir trees and tea plants owned by local people. Access to the temple Cetho was a little hard, sharp twisty winding roads. Background On Candi Bangunya Cetho Background on the rise and the core of this temple is a place for religious rituals, especially followers of Hindu religion. Temple Cetho (Javanese spelling: cethå) is a Hindu temple-style relics of the end of the 15th century Majapahit. Ceto temple built by King UB in 1451. The first scientific report of him was made by Van de Vlies in 1842. A.J. Bernet Kempers also do some research about it. Excavation for the purpose of reconstruction was first
    performed in 1928 by the Archaeological Department of the Dutch East Indies. Under the circumstances when the ruins began to study, this temple has not aged that much with Sukuh. Location of the temple is located in the hamlet of Ceto, Gumeng Village, District Jenawi, Karanganyar district, at an altitude of 1400m above sea level (http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ceto). The background is another reason why the temple was built above the height Cetho namely the mountain Lawu. The concept of god because they Mountains (Parwatarajadewa) Sources of Hindu India illustrates that the universe consists of a circular continent, called Jambudwipa, which is home to humans and many other animals. Jambudwipa is surrounded by seven oceans and seven series of mountains interspersed intermittently. Circle of the universe is centered on Mount Mahameru (Meru), the cosmic mountain diedari by the sun, moon, and stars. At the peak of Mount Mahameru lies the abode of the gods. While in the eighth Mount Mahameru guarded by the gods Asta-dikpalaka. According to Buddhism was a picture of the universe almost identical to the description of the cosmos in Hinduism. Mount Mahameru the center of the universe. The difference is outside the chain of mountains and the ocean there are seven in all four directions of the winds there are four continents. Located on the southern continent is Jambudwipa, human habitation and various other animals. While the three other continents live in a variety of magical creatures. The universe is also surrounded by a horizon line. Located on the slopes of Mount Mahameru lowest heaven, the fourth king of the residence as a guardian of the world (Geldern 1982: 4-5). At the time of ancient Java, there is a picture of the universe in a literary work and Brahmandapurana Bhismaparwa (10th century AD). Basically the picture of the cosmos in the literature is not much different from the source of Hindu India. World in the literature are described based on the Jambu-Dwipa. Jambudwipa Lawanasagara and surrounded by towering in the middle Mount Mahameru as the central point of the universe. In the north-south axis there are six other large mountain, which is Nilawarsa, Swetagiri, and Srngawan the north; and Nisadha, Hemakuta, and Hima in the south. In between there are seven mountain areas of residence. East-west axis of a row after the mountain there Gandhamadana, Ketuman, and Tasik Kulwan the west; and mountain Malyawan, Bhadraswa, then Purwasagara (Gonda 1932: 129-39; 1936: 1) Candi Ceto is divided into several courts. From court to court the next one to be separated by several steps. The higher the court the more sacred place. In the first courtyard, some people perform religious ceremonies. On the third terrace there is a stone structure that forms a giant turtle that is said as a symbol of Majapahit. In front of the head of a turtle are symbols phallus (male genitalia) along the 2 meter equipped with a decorative piercing (piercing) of type ampallang. Turtles are the symbol of the creation of the universe while the penis is a symbol of human creation. darii suryasengkala Saka dates to 1373, or 1451 BC (photo 2), (Http://napak-tilas-sejarah-di-candi-cetho.html). Environmental harmony Cetho What Have The Temple Religious Diversity
     
    Candi Ceto is a relic of Hindu civilization to the 14th century Majapahit empire end. This temple has the same function as the other temples as places of worship and meditation. If Entering the second ladder after the gate, encountered a statue of Ki Ageng Krincingwesi (an ancestor figure Ceto), which remains a place of meditation for people who were Hindus Karanganyar to this day. Cetho temple is located around housing residents was predominantly Hindu religion and local beliefs such as Javanese. But at the bottom of the temple Cetho predominantly Muslim. But living in harmony despite their different beliefs. They can coexist with each other even melengkapai one another. Looks like a sense of empathy in the community there has been firmly entrenched. Not emerge until the views of fascism which is completely can lead to conflict among religious. Integration can be seen from the award and an empathy for the statues - statues that surround the temple. You see statues - statues in this Cetho enshrinement for the people who lay very fulgar. The majority of the existing statue is the embodiment of the linga yoni. Lots of replica or statues shaped vagina pallus and everywhere.
    If only the people inside are not embedded mukin empathy and fandalisme destruction will occur, because the assumption that these statues he considered vulgar. But in fact behind the making of these statues have meanings that are stored. As a symbol of the vagina pallus and symbolizes fertility and strength.

    PANJI SITE IN THE VILLAGE GAMBYOK-KEDIRI THE PURA MAJAPAHIT

    HISTORICAL BACKGROUND SITE IN THE VILLAGE GAMBYOK PANJI-KEDIRIThe site is located in the village of Flag-Kediri Gambyok the former building of the golden age of pure Majapahit. Dutch people who had studied the site is the Stutterheim (1935), argues that the site should Bannerman was built in 1400 AD is precisely in the heyday or golden Majapahit. During this period a lot of cult figure Flag as a highly venerated figure or believed to be the incarnation of God. While these functions are Panji site as a place of worship of the character. Because in Hinduism filososis, making the temple as a place of worship background and also as an element mikrocosmos. Stutterheim statement is apparently nothing to do with the discovery of new sites of former settlement that is based on artifacts that have been found to originate from the Majapahit period. While based on the shape, Site Banner has been difficult to identify because the fence around the site was severely damaged, and only the inside of the fence that still survive although only slightly. New in 2002, by residents of a fence around the site was built a new fence will be created with the goal of business with the claim that the tomb is the legacy of Islam, so that there is a conflict between the parents who do not agree on that. This site is located outside the door is on the right-hand corner or at the southwest corner. Although the situation is difficult to identify its original form, pure from the Majapahit and the spatial layout is still clearly recognizable.From the standpoint of its orientation, Mandaragiri Semeru Agung temple to the sacred mountain or to the north, the Mount Semeru. This is very different from the site is located in the Village Banner Gambyok. Due north of the site there are no mountains. Because in the lowlands. Based on the layout of the pages, it can be identified with the temples kontestual Bekasih origin of deforestation is then distributed to followers MPU Markandya. It is based on a synopsis of the panel berelief Panji story found in the fence in the site indicate the origin of the temple built in the Flag. Meanwhile, according to archaeological findings around the site Bannerman, many found artifacts of the former parts of a large building, namely: Threshold Doors, Beams Andesite Stone large and small that are in people's homes, ornate tendrils spiraling pattern of andesite naturalist (the corner of the building). Based on andesite artifacts indicate that before the temple was built during the Majapahit, previously site Flag is never built using stone base material. The layout of the site in the village Gambyok Flag this can be expected to do with the arrival of a character who is none other than Bannerman. Because when viewed from the position where the Gambyok village located in the west of the river and the capital of Daha in the past is in the east of the river Brantas, it can be sure the area west of the river as a place to hunt. Because based on the story in literature Flag, Flag when hunting deer chasing their prey into the villages Pengapiran (Pengampiran?), Which comes from the word "I almost ', and synonymous with the word" coming "means to come. Toponimi name refers to the name of the village in the south of the site is Datengan. Whereas Community action is abuzz (Ombyok-ombyokan) mangkap Flag deer is now a name Gambyok toponyms. Because according to Purbatjaraka, Flag figure is actually the Sri Maharaja who ruled the kingdom Kadhiri Kameswara between the years 1185 ± 1182 to ± M. It was written behind Kakawin Smaradahana essay that describes the MPU Darmaja love story of King as the incarnation of god Kama Kameswara. The influence of the XII century in the village of Gambyok in the history of the classical stage, also evidenced by Maling Sentono site located 300 meters east of Site Banner. This site is a brick structure whose size is very large and this brick structure under the existing tunnel or sebua called Whitewater.Contextually, it can be likened Mandaragiri Semeru Agung temple which can be recognized even though only have two pages, but does not eliminate the philosophical meaning as well as the Pura Gambyok Flag on it. Philosophical meaning of the two pages is a symbol of the subconscious Associate Mandala (dhah) the Earth or the Earth. While the President is a natural upper Mandala (urdhah) that space. While Nistha Mandala, formally in Mandaragiri Semeru Agung temple can not be realized, because at the moment wedge surang or temple is Senduro Highway. However, when referring to the composition of the area following the Medieval Mandala PMSA letter U. It is also the same as the spatial Flag sites use the same concept of Hinduism is growing rapidly in the Age of Majapahit. Philosophical concept of spatial structure in the temple building is not much different from the philosophical concept of the temple. Because identifying the shape of the mountain which has three parts: foot, slopes and peaks. So is the part of the philosophical significance of each temple above the building layout (Lestari, 2004).
    SITE LOCATION PANJIThe site is located in the Village Gambyok Flag, District Grogol, Kediri western part of the Brantas River. When we look at the Village Gambyok southern part of Google Earth, this region would be in the middle of rice fields. Gambyok Village area geographically coordinates are 7 ° 44 '6 "(7735 °) south, 111 ° 59' 28.68" (111.9913 °) east. And an altitude of 106 meters above sea level. Thus the height of land Gambyok Village are among the lowest in the height of land on the map classification Kediri. In addition, the distance of the Brantas River Village Gambyok only 2.275 Km to the west. Gambyok Village area north and east is surrounded by rivers and river Bendo Mlinjo Mongal very supportive of people's lives now and the past. While the south adjacent to the Village Datengan still one district.Flag Gambyok administratively sites located on the border between the Village and Village Gambyok Datengan, and the astronomical coordinates are S 07 ˚ 44 '15.1'' / E 111 ˚ 59' 26.1'' in elevation or a height of 80 meters above sea ​​level. Location of the site is very unique, because it is between two villages. It is that factor into obscurity Flag Site ownership between the two villages, which in turn is not maintained and had been stolen. Flag Site location is not far from the surrounding sites and each still has a historical association in the past. So it can be concluded, between the Village and Village Datengan Gambyok have the same history in the past.
    Views Of The Flag Of SiteBased on the results of field interviews, the people who inhabit the southern village of Gambyok most are descendants of people Grobokan-Solo or better known as the Mataram which is approximately in the 1830s migrated to the region because of the political situation in Central Java has been in control of the failure due to post-war Dutch Java, led by Prince Diponegoro. The residents of the Village Gambyok when the author interviewed many argue that these people were former army Mataraman Diponegoro. Of migration is done by people Mataraman is the negative impact of the existence of a war that resulted in the suffering of the people. Because of the war will inevitably drain energy and property, in addition to the fields and abandoned fields, and then led to famine. Factors that led to a shift into new areas and safe from a war. Mataram people managed to make interaction with the locals in the village and surrounding Gambyok. They managed to build a new life with a successful livelihood as farmers. And it is also building a boarding school located in the Hamlet-Village Bonto Gambyok. This success is based on the story of Mr. Slamet, that people Mataraman Solo or it did well in his new territory, namely Gambyok and surrounding villages. With these successes, some of them were able to go on Hajj. In addition to their Hajj can also form a system of government in this Gambyok village. As Mbah Abdul Karim who, after success in the areas of refuge, he then went on a pilgrimage with some friends. Setela returning from Mecca, he was appointed head of the first village in Gambyok.Mataram people who are strong in the field of religion and government is making a native of the village and surrounding Gambyok difficult to recognize. Because it has been a blending or mixing of groups of people in one system. This is what also lead author of the data difficult to obtain data about the original inhabitants before the arrival of the Village Gambyok people Mataraman to uncover the historical sites according to the Flag of spatial form is a Hindu religious shrine, or temple called. According to Stutterheim (1935), the banner of the site should be built around 1400 AD Opinion was accompanied by a sense of doubt because in the Flag panel walls Mandala Madhya were not in the context of materials with existing buildings in the vicinity. By the time people around the site excavated soil for making bricks in the east of the site, they have found a lot of artifacts. However, when these are left only four of Dalat met, namely: large doorway, a garnish of andesite tendrils patterned naturalist and andesite blocks berukutan one small and one large elongated.View of the history of the site is located on the border Panji both villages have become a little fuzziness. According to people around the site, the place is owned by the Datengan. This is because most people around the Village Gambyok are descendants of the solo. While the solo in that area is also very dense Datengan up descendants to the present. In this case, the authors argue that in fact local residents Datengan area existed before the people of Solo arrived in the region. Then because of the influence of his new Solo in the region is stronger, then the local culture will be eroded after a long time. However, not all the legends and myths of the Site Flag is lost. Sebagain because there are still people who keep the story from the previous people who know about the legends and myths Flag site as a result of interaction with the local population on arrival in their new land. So far by generations to make an assumption that people sanctify the place, and every month of Suro held a prayer meeting held in the space within the site. Society's view of the most common site is the myth that the site is maintained by the subtle intangible makhaluk white tiger. Tiger is trusted by the population as a guard two villages, and at the second village will be affected the tiger is roaring to warn. That assumption related to the myth of the Banner site watchman in the form of a tiger. According to Mr. Mulyono as adat Gambyok Village, White Tiger penuggu named Joko Lelono site. He is a good person at heart and turned into a White Tiger moksa. Joko is the youth of the era Lelono Kadhiri and still have something to do with Goa Selomangkleng. Joko Gambyok Lelono came to the village only to drop it, and then come back in its place is Sentono Gedong. Joko Lelono is still something to do with Princess Flower afternoon.Mr Mulyono can only tell you briefly about Joko Lelono. However, when the author asked about the strange man who was buried at the Banner site, he replied that it is actually not a man who is buried there, but the legacy of King Angling Darma before attaining moksha in the region Sewu Suko (A place in the southern village of Wonoasri now). He told about the origins of the village and Datengan Gambyok Angling Darmo also from traveling to Karachi from Bojonegoro region. Said Mr. Mulyono, at Angling Darmo through an area, Angling Darma find mojo trees that line of three and fruits and leaves clustered (Ngombyok) and therefore the area is called Gambyok. While a place where there are tree lined mojo is until now named three telu mojo. Around the tree, according to Mr. Suroto mojo as Head of Government Affairs, there was once a pundung (mound) which are unloaded at the ancient bricks in abundance and size as that on the site Sentono Maling (alleged site of the whitewater century XII). This indicates that the area around the tree where the mojo is consecrated in the past. However, this interpretation is in contrast to Mr. Wahab, a former village chief Gambyok who said that the name is taken from the leaves of the tree Gambyok cacil the Flocking (Ombyok-Ombyokan). Based on information about people's views about the site in the Village Gambyok Flag-Kadiri, the authors know well that each party's interpretation is different, and also poses a different pendangan. Since most public areas and Datengan Gambyok today are descendants of those immigrants from the Grogokan-Solo. So it is understandable if there was a diversity of views on each side.Not finding a definite view, then between the years 2001-2002 there are problems related to the origin of the Pani site. There are a bunch of parties who claim that the site is the tomb of Sheikh Ali Sheikh Khasan Syamsudin and Malik, to be used as a commercial enterprise. Groups that want to convert the site is identified the trees cacil Flag located on the Site Flag is the one in Spring Tirtokamandanu-ceiling, which is believed to be the bathing place of Sri Aji Joyoboyo. They thought that Sheikh Ali Syamsudin who had met with Sri Aji Joyoboyo was buried at the Banner website. However, the actual sources that they use is very ridiculous to compare that is not obvious just by business interests as at the tombs of Muslim saints. So a group of party building site debris fence with new fence. And also build a second tomb to tomb concept of length. The action gets harsh criticism from parents groups, initiated by Mr. Mulyono. Because the site is the Hindu heritage, and not uncommon when Islamicised granted. Fence posts and the various attributes that mentions that the site is the tomb of Islam all destroyed by a group that supports the rejection of the notion that the site is the tomb of Islam. Until the end now derelict and unkempt.Based on the above information, the at least connect with the history of the site is the story of Johnny Lelono Flag is just coming to the region Gambyok just stop by and directly back to Sentono Gedong. In this case you should note that if a name meaning Joko Lelono Couple who like traveling, none other than the Flag. Because the literature is told that Java Banner Flag often travel to find love. [There is a beast when he was hunting in a forest. Then while chasing deer, he entered the village Pengapiran (Pengampiran?) And in the village all the inhabitants of a gang (in the sense of Java: Ombyok-ombyokan) to surround and capture the deer he loves the son of a village chief named Dewi Martalangu. And in that night, carrying Flag Martalangu go to town. The scene is depicted on the reliefs in the Site Banner Flag it. Flag Martalangu met in the afternoon. Because in the story, because it was afternoon the troops Flag memerintakanan named Prasanta seeking to bring Martalangu train went to the city that night. Thus it certainly is a Princess Flower Afternoon on the story above, none other than the Martalangu. In the story Semirang Flag, was eventually killed by her mother Martalangu Flag as presumed to be a barrier engagement with Candra Kirana Flag. According Purbatjaraka (1968: XI) Flag story actually is younger than King Kadhiri experience that reigned between ± 1182 to ± 1185 M is called Sri Kaweswara and his wife named Sri Kiranaratu. This is according to the authors site on which to base the construction of Flag on the border between the two villages. Because the Village Pengapiran (Pengampiran) derived from the word I almost / stop, which means Come, now refers to the name of the village Datengan. Whereas Community action is abuzz (Ombyok-ombyokan) mangkap Flag deer is now a name Gambyok toponyms.



    Daftar Pustaka
    Poerbatjaraka. 1968. Cerita Panji dalam Perbandingan. Jakarta: Gunung Agung
    Lestari, 
    Febrian Ika. 2000. Gaya Arsitektur Pura Mandaragiri Semeru Agung Di Lumajang.(Online).http://fis.um.ac.id/blog/2010/09/07/gaya-arsitektur-pura-mandaragiri-semeru-agung-di-lumajang. Dikutip: tanggal 1 Oktober 2011 pukul 13.04 WIB.