Minggu, 02 Agustus 2015

Dinasti Ming (1368-1644 M)

Dinasti Ming

      Penghujung Dinasti Yuan ditandai oleh adanya pemerintahan yang korup, pajak, dan inflasi yang tinggi. Hal ini semakin diperparah dengan adanya sikap bangsa Mongol yang suka bertindak sewenang-wenang. Kekaisaran kemudian mengganti mata uang yang telah beredar sejak zaman Kubilai Khan dengan mata uang baru. Mata uang ini baru dicetak dalam jumlah besar sehingga menyebabkan hiperinflasi. Hal ini kemudian menyebabkan perekonomian ambruk dan bencana kelaparan merebak dimana-mana. Pada tahun 1351, terjadi bencana banjir besar yang diakibatkan Sungai Kuning meluap. Kekaisaran kemudian menyuruh rakyat melakukan kerja paksa untuk memperbaiki bendungan Sungai Kuning. Kerja paksa ini kemudian menyebabkan ketidakpuasan rakyat dan akhirnya me nimbulkan pemberontakan petani yang terjadi pada bulan Mei 1351.
Pada tahun berikutnya Guo Zixing memimpin pemberontakan dan berhasil menguasai wilayah Haozhou. Ketika Guo Zixing melakukan pemberontakan Zhu Yuanzhang juga ikut berpartisipasi dan berjasa dalam beberapa pertempuran. Jasa Zhu kemudian menarik perhatian Guo yang akhirnya menikahkan putri angkatnya kepada Zhu. Tahun 1356, dengan kekuatannya sendiri, ia berhasil menaklukkan jiqing dan mengganti nama menjadi Yngtian. Yingtian inilah yang kemudian menjadi ibukota yang baru setelah Dinasti Ming berdiri.
Zhu Yuanzhang kemudian memutuskan untuk berbasis di Yingtian untuk memusatkan kekuatan demi mempersatukan daratan Cina. Pada awalnya, situasi Zhu di wilayah Yingtian sangat tidak strategi buat mengumpulkan kekuatan dalam waktu singkat. Kemudian ia menerima nasihat Zhu Sheng untuk memprkuat pertahanan dan memusatkan perhatian pada perbaikan logistik dan tidak terlalu gegabah untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja.
Kebijakan yang dibuat oleh Zhu menyebabkan ia dapat memperkuat dirinya dalam waktu singkat. Ia kemudian menyerang kekuatan pemberontak lainnya, Chen Youliang pada tahun 1360. Ia kemudian berhasil memukul mundur pasukan Chen ke Jiangzhou, wilayah pesisir sebelah timur Yingtian. Dalam waktu tiga tahun, Zhu berhasil menghancurkan kekuatan Chen.
Tahun 1367, Zhu berhasil menaklukkan Zhang Shicheng, pemberontak lainnya dan menguasai Pingjiang (sekarang Suzhou, Jiangsu). Dalam tahun yang sama, Zhu juga menghancurkan kekuatan Fang Guozhen yang pada saat itu menguasai wilayah pesisir Zhejiang. Setelah keberhasilan ini, Zhu Yuanzhang mengangkat diri sebagai kaisar pada tahun 1368, memulai sejarah Dinasti Ming selama 300 tahun ke depan. Ia menetapkan Hongwu sebagai tahun pemerintahan sehingga ia dikenal juga sebagai Kaisar Hongwu.
Pada tahun itu juga, Kaisar Hongwu melakukan ekspedisi ke utara untuk mempersatukan Cina. Kekaisaran Yuan yang saat itu telah melemah tidak dapat menghambat tentara Ming yang saat itu bermoral tinggi karena kemenangan demi kemenangan. Ibukota Yuan, Dadu berhasil dikuasai dan dibumi-hanguskan atas perintah Kaisar Hongwu. Suku Mongol kemudian berhasil diusir kembali ke padang rumput Mongol.

Setelah berhasil menghancurkan Dinasti Yuan, Kaisar Hongwu menaklukan pemberontak Ming Yuzhen di Sichuan pada tahun 1371. Sepuluh tahun kemudian, hancurnya kekuatan Raja Liang dari Dinasti Yuan di Yunnan mengukuhkan penyatuan Cina daratan di bawah Dinasti Ming.

Daftar Rujukan :
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Wiriaatmadja, Rochiati dkk. 2003. Sejarah dan Peradaban Cina Analisis Filosofis-Historis dan Sosio-Antropologis. Bnadung: Humaniora
Lam, N. Mark, Graham, John L. 2007. China Now Berbisnis di Pasar Paling Dinamis di Dunia. Jakarta: Gramedia

PERKEMBANGAN AGAMA DI CINA PADA MASA BERKUASANYA KOMUNIS PADA TAHUN 1949


Masyarakt Cina & Wilayah Cina


Latarbelakang Perkembangan Agama di Cina pada masa berkuasanya komunis Tahun 1949 Cina adalah negara yang menerapkan sistem komunisme pada pemerintahannya hingga kini. Sistem komunisme menjadikan agama terlalu berkembang di masyarakat. Mengingat komunisme menjadikan materi sebagai poros penggerak dalam kehidupan, maka agama tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Komunisme sendiri muncul hampir bersamaan dengan masuknya Inggris ke Indonesia pada sekitar abad 19 yang kemudian membawa berbagai paham di Eropa. Akibatnya, muncullah komunisme sebagai reaksi atas masuknya paham-paham tersebut.
            Komunisme sendiri mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Mao Tse Tung. Mao Tse Tung sebagai pemimpin yang berideologi komunis berhasil menduduki pemerintahan setelah berhasil menggulingkan kekuasaan sebelumnya melalui kudeta yang penuh dengan darah. Adanya berbagai pergolakan pasca munculnya komunisme di Cina membuat para penulis tertarik untuk mencari tahu  perkembangan Cina pada masa berkuasanya komunisme, khususnya perkembangan dalam bidang agama.
            Makalah yang berjudul “Perkembangan Agama di Cina Pada Masa Berkuasanya Komunis Pada Tahun 1949”  ini akan dibagi menjadi beberapa sub bab pembahasan yang terdiri atas demografi dan kondisi Cina saat ini, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai perkembangan agama pada masa dinasti Ming dan Qing sebagai dinasti yang pertama kali menerapkan Confusianisme yang mirip dengan komunisme yang untuk selanjutnya mengakar menjadi agama Kong Hu Chu. Terakhir, akan dibahas bagaimana perkembangan agama di Cina pada masa berkuasanya komunisme yang dipimpin oleh Mao Tse Tung.

Kronologis Sejarah Indonesia Moderen


Kronologis Sejarah Indonesia Moderen
  • 7 April 1944 – Jepang menyampaikan janji kemerdekaan bagi Indonesia diwakili oleh Jenderal Koiso. Karena posisinya yang sudah terdesak dalam perang Pasifik Raya.
  • 1 Maret 1945 – Letnan Jendral Kumakici Harada, pimpinan pemerintah pendudukan Jepang di Jawa, mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Cosakai). Pembentukan badan ini bertujuan untuk menyelidiki hal-hal penting menyangkut pembentukan negara Indonesia merdeka.
  • 28 April 1945 – pengurus dalam tubuh BPUPKI dibentuk yang kemudian mengangkat dr. Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketua.
  • 29 Mei 1945 – sidang pertama untuk membentuk dasar negara. Moh. Yamin mengutarakan rumusannya yang terdiri dari 5 peri. Terdiri dari:

  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri Kemanusiaan;
  3. Peri Ke-Tuhanan;
  4. Peri Kerakyatan;
  5. Kesejahteraan Rakyat.
  • 31 Mei 1945 – Mr. Soepomo mengajukan rumusannya, yakni:

  1. Persatuan
  2. Kekeluargaan
  3. Keseimbangan
  4. Musyawarah
  5. Keadilan sosial
  • 1 Juni 1945 – Ir. Soekarno mengajukan rumusannya yang dikenal sebagai pancasila. Isi rumusannya:

  1. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
  2. Kesejahteraan sosial.
  3. Mufakat atau demokrasi.
  4. Internasionalisme atau peri-kemanusiaan.
  5. Kebangsaan Indonesia.

  • 22 Juni 1945 – dibentuk panitia 9 yang bertujuan untuk merumuskan dasar negara dan kemudian menghasilkan Jakarta Charter. Panitia 9 beranggotakan:

  1. Ir. Sukarno
  2. Drs. Moh. Hatta
  3. Muh. Yamin
  4. Mr. Ahmad Subardjo
  5. Mr. A.A. Maramis
  6. Abdulkadir Muzakkir
  7. K.H. Wachid Hasyim
  8. K.H. Agus Salim
  9. Abikusno Tjokrosujoso.

  • Isi Jakarta Charter:
  1. e-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya
  2. (menurut) dasar kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. (serta dengan mewujudkan suatu) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ir. Soekarno & Anggota-anggota BPUPKI

  • 10 Juli 1945 – rapat BPUPKI untuk merumuskan Rencana UUD termasuk preambule-nya oleh panitia perancang UUD, diketuai Ir. Soekarno dengan 21 anggota
  • 11 Juli 1945 – rapat memutuskan bahwa panitia Perancang UUD menyetujui isi preambule diambil dari Jakarta Charter.
  • 14 Juli 194 – sidang kedua BPUPKI yang menerima laporan hasil kerja Panitia Perancang UUD. Hasil kerja tersebut adalah:

  1. Pernyataan Indonesia Merdeka
  2. Pembukaan Undang-undang Dasar
  3. Undang-undang Dasar (batang tubuh)
  • 16 Juli 1945 – diadakan Kongres Pemuda Seluruh Jawa yang diprakarsai Angkatan Muda Indonesia. Kongres pemuda itu dihadiri oleh lebih 100 utusan pemuda, pelajar dan mahasiswa seluruh Jawa diantaranya Djamal Ali, Chairul Saleh, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto serta sejumlah mahasiswa Ika Daigaku Jakarta. Kongres menghimbau para pemuda di Jawa hendaknya bersatu dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan yang bukan hadiah Jepang.
  • 6 Agustus 1945 – terjadi pengeboman di  Hiroshima, Jepang
  • 7 Agustus 1945 – BPUPKI dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah PPKI sebagai kelanjutan dari BPUPKI yang panitianya ditunjuk langsung oleh Jepang dan Jend. Terauchi.
  • 9 Agustus 1945 – terjadi pengeboman di Nagasaki, Jepang. Dan 3 orang (Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat) berangkat ke Dallat, Vietnam untuk menemui Jenderal Terauchi.
  • 11 Agustus 1945 -- Jepang melalui Terauchi mengatakan bahwa proklamasi dapat dilakukan dalam beberapa hari kedepan
  • 14 Agustus 1945 – Jepang diserang oleh Uni Sovyet di Manchuria yang kemudian menyebabkan mereka menyerah tanpa syarat.
  • 15 Agustus 1945 – Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu dan 3 pimpinan Indonesia yang dipanggil ke Dallat kembali ke Indonesia. golongan pemuda mengadakan rapat kembali dan mereka sepakat untuk menjauhkan bung karno dan bung hatta dr pngaruh jepang ke luar kota
  • 16 Agustus 1945 – terjadi peristiwa Rengasdengklok yang dipelopori oleh para pemuda. Terjadi akibat perbedaan pendapat untuk menentukan proklamasi Indonesia. Ir Soekarno dan Moh. Hatta diasingkan ke Rengasdenklok.
  • 17 Agustus 1945 – proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan.